Sering ayah bercerita di masa perang melawan penjajah, demikian pula ibu walau hanya menemami Ayah di asrama.
Badan tegap tinggi besar suara yang menggelegar ciri seorang "Pejuang Kemerdekaan Rebpublik Indonesia". Mereka bangga dengan dengan cerita waktu perjuangan fisik melawan kolonial Belanda, Jepang , Inggris. Sambil bercerita banyak yang aku tanyakan pada Ayah atau Ibu, dengan sengan hati ayah mulai memberikan aba-aba bila prajurit mau melangkah menuju medan perang. Ibupun senang menyanyikan lagu-lagu Jepang walau dengan ritmi yang agak kacau, memang ibu gak bisa nyanyi tidak seperti Ayah. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun sang anak merambah dewasa Ayah dan Ibu bertambah usia hingga sang Ayah telah mendahului kita.
Kucoba membuat lagu untuk membangkitkan semangatku, untuk mengingat Ayah namun yang terlintas dalam pikiranku Ayah hidup susah serba kekurangan puluhan tahun lamanya. Surat Keputusan Veteran dan logo Veteran RI Ayah banggakan tak kunjung mendapatkan imbalan dari Pemerintah RI. Justru tidak sedikit bahkan setiap kali pengajuan bantuan, tunjagan atau apapun namanya selalu dan selalu menjadi korban penipuan para Petugas Pengajuan/Permohonan pemberian Tunjangan Veteran yang dijanjikan oleh Pemerintah dan menjadi impian Ayah untu bisa hidup cukup.
Kehormatan sebagai seorang Pejuang Kemerdekaan Republ;ik Indonesia yang diagung-agungkan setiap kali Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan Hari Pahlawan 10 Nopember ternyata hanya senandung lagu. Indah dilihat foto-foto, relief-relief, filem dan sandiwara bagai fatamorgana yang Ayah dapatkan. setelah itu hilang ditelan angin.
Tanda Jasa Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (Veteran RI) yang Ayah sematkan di dada menjadi kebanggaannya. Namun menjadi cercaan, cacian bagi banyak orang sampai satuan tentara atau polisi pun akan memandang rendah akan hal itu. Karena apa seorang Pejuang telah lanjut usia, dengan baju lusuh mengisyaratkan orang miskin. Tapi Aku tahu Ayah memang sangat bangga dengan dirinya sendiri ini memang karakteristik seorang serdadu. Beberapa kali aku saksikan sendiri waktu itu Ibu sering sakit-sakitan, Ibu berobat ke Rumah Sakit sedang mendaftarkan diri dengan kartu HI (kartu kesehatan) seorang Veteran salah seorang petugas dari dapat ruangan bilang "alah itu kan veteran gadungan!!!!" malu bukan main Ibu dengan Aku mendengar seperti itu. Belum lagi berobat di Rumah Sakit lainnya lagi-lagi ada pegawai yang bilang "ini kartu tidak laku karena Veteran bukan pegawai negeri" dibikin pucat pasi dibuatnya, Saking malunya aku dan ibu saat itu, ahirnya Kartu Kesehata (HI) dibuang oleh Ayah. Dan banyak dari masyarakat luas memandang Veteran (Pejuang Kemerdekaan RI) adalah masyakat miskin, masyarakat rendah memang itu kenyataannya.
Tahun 1981 Ayah menerima khabar dari seorang teman seperjuangan yang saat itu dan kini sudah perwira. Dipanggilnya Ayah untuk menghadap Bapak SUYONO (saya agak lupa) di Bandung atau di Jakarta lewat teman yang kebetulan ketemu di Bandung. Ayah dengan senang hati bergegas memenuhi undangan Bapak Suyono. Sesampainya di kantornya Ayah mendapat sambutan baik di setiap sudut jalan maupun ruangan Ayah mendapat penghormatan dari para Prajujirt TNI karena Ayah memakai seragam Veteran RI lengkap dengan atributnya. Sesampainya bertemu dengan Bapak Suyono, Bapak Suyono memberitahukan bahwa Bapak Abdul Haris (Ayah) akan mendapat tunjangan veteran tidak berapa lama lagi. Bapak Suyono berpesan (wanti-wanti) dengan bahasa Jawa kromo inggil Bapak Suyono jangan mau diminatai duwit oleh siapapun, SK (Surat Keputusan ) sampun dipun tapak asmo Bapak Sudomo (Menhanpangab saat itu) Bapak Suyono berharap dengan nada yang halus mengingat dulu bawahan Ayah.
Sepulangnya dari Bandung Ayah bercerita banyak telah ketemu anak buahnya saat perang kemerdekaan kini sudah menjadi seorang Perwira. Kabar akan mendapatkan "Tunjagan Veteran" pada setiap bulannya seumur hidup sampai pada Ibu memang benar-benar terwujud. Dengan gembira Ayah Ibu, aku dan kakak adikku.
Terima kasih pada Pemerintah Indonesia yang telah memberikan perhatian berupa "Tunjangan Veteran" kami sebagai anak tidak menghitung jumlah pemberian itu, tapi di hati kami lebih dari perhatian Pemerintah RI terhadap Veteran maupun Janda Veteran. Kami kini semakin tua umurpun sudah melampaui 50 tahun sudah masanya pensiun. Cacian cercaaan, dan penipuan-penipuan yang telah Ayah (Veteran RI) alami sebagai pengurang timbangan kesalahan Ayah dan penipuan itu menjadi sodakoh Ayah. Semoga Ayah menjadi orang yang mendapat pahala yang banyak disisi Allah SWT sebagagi seorang yang berpahala atau pahalawan (pahlawan) '
Pesan Ayah kepadaku, Kau adalah "BUNGA" anakku, jika kau mewangi aku ikut mewangi dan bila layu akupun ikut layu. Insha Allah aku akan menyirami biar bunga tetap mekar berseri mengharumkan namamu Ayah. Dan setahun yang lalu, tepatnya tanggal 9 Desember 2016 Ibu Sujati Abdul Haris pergi menemui Ayah di Keabadian, semoga senyum dan tawa Ayah menyambut Ibu. Wallahu a'lam bisowab.
"SELAMAT HARI PAHLAWAN AYAHKU"
Ucapan sebelum Ibu menemui Ayah.
AKU MASIH MENYIRAMI MEMELIHARA BUNGA SAKURA (Ibu) KESAYANGAN AYAH
Sabtu, 11 November 2017
SELAMAT HARI PAHLAWAN " Padamu SANG KOPRAL"
Akulah Bunga yang sedang mekar mengharumkan namamu Ayah Ibu.

semoga Allah SWT menempatkan Bapak, mbah di sorga dan kekal didalamnya
BalasHapusAamiin aamiin aamiin ya rabbal 'alamiim
Hapus